IMBAS ELEKTROMAGNETIK

Berikut Latihan soal.

LAPORAN BIOLOGI

DISUSUN: APRIANDI PRASETYO ,ATIKA DIAN PURWANDANI, BELLO SOFIONO,CECEP HENDRA

RITUAL PERKAWINAN ADAT SAI BATIN

Tempat tersebut disebut manjau, pengartian manjau adalah cara bertemu atau berkunjung kerumah gadis yang sudah dikenal dalam rangka menjalin hubungan untuk berumahtangga...

PENANGGULANGAN RADIOAKTIF

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

HAK SIAR ISL 2015

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label astronomi. Show all posts
Showing posts with label astronomi. Show all posts

Monday, 5 March 2012

Laptop Berisi Kode Rahasia NASA Dicuri

Berisik kode komando dan perintah untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional. Membahayakan?

Jum'at, 2 Maret 2012, 16:23 WIB
Elin Yunita Kristanti
Satelit NASA (Reuters/Bill Ingalls/NASA)
BERITA TERKAIT

yudaxsmansaga -- Kasus pencurian komputer jinjing (laptop) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang terjadi tahun lalu ternyata tak main-main. Sebab, laptop tersebut tak terenkripsi dan berisi data superpenting: kode komando dan perintah untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station).

Demikian diungkap Inspektur Jenderal NASA, Paul K Martin kepada parlemen Amerika Serikat Ia menceritakan, laptop tersebut dicuri pada Maret 2011, "yang mengakibatkan hilangnya algoritma" yang digunakan untuk mengontrol stasiun luar angkasa internasional. Laptop ini, ujar Martin, adalah satu dari 28 komputer jinjing milik NASA dan perangkat selular yang dicuri dalam kurun waktu April 2009 sampai April 2011.

Beberapa kasus pencurian mengakibatkan kebocoran data sensitif, termasuk dokumen kontrol, data pribadi, dan kekayaan intelektual pihak ketiga. Juga nomor rahasia jaminan sosial dan data program Constellation and Orion NASA.

Jumlah pencurian faktual diperkirakan jauh lebih tinggi dari yang terdata. Sebab, untuk mendata jumlah pencurian, NASA bergantung pada laporan para pegawainya.

Apakah pencurian Laptop membahayakan stasiun luar angkasa internasional?

Dalam sebuah surat elektronik pada situs SecurityNewsDaily, petugas urusan publik NASA, Trent Perrotto mengatakan, pencurian laptop pada 2011 tidak membahayakan operasi stasiun luar angkasa internasional.

"NASA telah membuat kemajuan signifikan untuk memproteksi sistem IT, dan dalam proses implementasi dari rekomendasi yang dibuat oleh Inspektur Jenderal," kata Perrotto.

Kembali ke soal pencurian, Paul K Martin menyebut, dari 47 serangan siber, 13 di antaranya telah sukses dikompromikan komputer NASA.

Serangan-serangan tersebut adalah bagian dari 5.408 insiden cybersecurity tahun 2010 dan 2011 yang mengakibatkan malware yang ditanam pada sistem yang dibuat dengan biaya sekitar US$7 juta. "Cakupan jenis insiden luas, dari individu yang ingin menguji kemampuan mereka dengan membobol sistem NASA hingga aksi kriminal terorganisasi yang ingin menyusup, meretas, demi keuntungan materi. Juga ada penyusupan yang ternyata disponsori intelijen asing," kata Martin.

Salah satu contoh kasus aksi individu dalam rangka menguji kemampuannya adalah yang dilakukan "TinKode", nama alias hacker Romania, Razvan Manole Cernainu (20) yang menyadap server komputer di NASA Goddard Space Flight Center di April 2011.

"Beberapa dari gangguan ini telah dialami ribuan komputer NASA, yang menyebabkan gangguan signifikan pada operasi misi, menyebabkan pencurian data kontrol dan data sensitif lainnya.

Pengakuan Martin menggarisbawahi kesulitan staf IT NASA untuk mengamankan laptop dan perangkat selular. Pada 1 Februari 2012, hanya 1 persen dari perangkat portable NASA yang terenkripsi.

"Sampai NASA sepenuhnya telah menerapkan solusi enkripsi data para perangkat mobile dan portable, sistem penyimpanan data tetap berisiko tinggi dicuri." (sumber: SPACE.com)

• VIVAnews

Lautan di Bulan Jupiter Mengandung Zat Asam

Europa, salah satu bulan Jupiter, memiliki laut yang dinilai sulit menunjang kehidupan.

Senin, 5 Maret 2012, 12:06 WIB
Europa, salah satu bulan milik planet Jupiter (matus1976.com)
BERITA TERKAIT

YUDAXsmansaga - Para peneliti mengatakan bahwa terdapat lautan di bawah permukaan bulannya Jupiter, Europa. Namun, lautan itu mengandung terlalu banyak zat asam yang tidak mendukung kehidupan.

Para ilmuwan meyakini bahwa Europa yang seukuran Bumi, memiliki sebuah lautan dengan kedalaman mencapai 100 mil atau 160 kilometer. Lautan itu ditumpangi oleh kerak es yang tidak diketahui ketebalannya, meski diperkirakan hanya beberapa mil saja.

Selama ini kehidupan di bumi dianggap ada, sejak ditemukan keberadaan air. Selama beberapa tahun ilmuwan telah mempertimbangkan gagasan bahwa bulan Jovian (yang mengorbit di Jupiter) dapat mendukung kehidupan di luar bumi.

Penemuan terakhir bahkan menunjukkan lautan dalam bulan tersebut terdapat oksigen yang cukup untuk mendukung jutaan ton kehidupan lautan, seperti jenis-jenis spesies yang pernah ada di bumi.

Para peneliti telah mengajukan misi untuk mendalami lapisan luar Europa untuk mencari kehidupan di dalam lautnya. Meski demikian, peneliti lain telah menunjukkan bahwa Europa dapat menyembunyikan fosil kehidupan laut tepat di permukaan untuk menemukan bagaimana air tampaknya secara teratur akan didorong dari bawah.

Namun, ahli kimia menemukan bahwa permukaan Europa kemungkinan beresiko membahayakan kehidupan yang ada. Matthew Pasek, seorang astrobiologis di University of South Florida, mengatakan tingkat keasaman yang dihasilkan di laut itu dapat membahayakan.

Senyawa Kimia Berbahaya

Senyawa tersebut yakni oksidan, yang mampu menerima elektron dari senyawa lain. Ini biasanya jarang terjadi di tata surya karena banyaknya bahan kimia yang dikenal sebagai reduktor, seperti hidrogen dan karbon, yang bereaksi cepat dengan oksidan untuk membentuk oksida seperti air dan karbondioksida.

Europa kebetulan penuh dengan oksidan yang kuat. Misalnya, oksigen dan hidrogen peroksida, yang diciptakan oleh radiasi dari kerak es dengan partikel berenergi tinggi dari Jupiter.

Oksidan memang menunjang kehidupan di lautan Europa. Namun, peneliti menambahkan, oksidan tersebut mungkin bereaksi dengan sulfida dan senyawa lain di laut sebelum kehidupan bisa menangkap itu, dan menghasilkan asam sulfat dan lainnya.

Jika ini telah terjadi selama hampir setengah umur keberadaan Europa, tidak hanya akan merampas penunjang kehidupan laut, tetapi bisa menjadi relatif korosif, dengan pH sekitar 2,6.

Tingkat keasaman akan menjadi tantangan yang penting bagi kehidupan, kecuali jika organisme mampu dengan cepat menyerap oksidan untuk memperbaiki keasaman. Ekosistem butuh berkembang untuk menghadapai keasaman ini, yakni sekitar 50 juta tahun.

Mikroba Asam di Europa

Setiap ekosistem yang masih hidup di lautan Europa mungkin sama dengan komunitas mikroba yang ditemukan dalam air asam tambang di Bumi, seperti mikroba merah terang di sungai Río Tinto di Spanyol. Mikroba yang dominan ditemukan di sana adalah toleran, bahkan cenderung menyukai lingkungan asam, yang tergantung pada besi dan sulfida sebagai sumber energi metabolik.

"Mikroba di sini telah menemukan cara menghadapi lingkungan asam," kata Pasek. "Jika kehidupan itu di Europa, Ganymede, dan bahkan mungkin Mars, yang mungkin benar-benar menguntungkan," lanjutnya.

Pasek tidak berpikir kemungkinan adanya batu yang mungkin menetralkan efek keasaman di dasar laut Europa. Jika pun ada, Pasek mengatakan itu tidak cukup untuk mengurangi keasaman.

Kalsium berbasis bahan yang tulang dan kulit di Bumi dibuat untuk mudah larut di lingkungan yang asam. "Salah satu kemungkinan menarik bahwa mereka mungkin telah digunakan sebagai bahan fosfat biru tulang mereka bukan berkembang organisme besar," kata Pasek. "Jika Anda memiliki fosfat besi, Anda membuat mineral biru cukup disebut vivianite."

• VIVAnews

Oksigen Ditemukan di Dione, Bulan Saturnus

"Ini menunjukkan bahwa molekul oksigen pada dasarnya umum dalam sistem Saturnus."

Senin, 5 Maret 2012


VIVAnews - Pesawat ruang angkasa milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang mengitari Planet Saturnus telah mengidentifikasi lapisan atmosfer oksigen yang tipis pada cincin planet Dione, bulan Saturnus. Atmosfer Dione 5 triliun kali lebih padat dibandingkan dengan udara pada permukaan Bumi.

Atmosfer Dione dideteksi oleh pesawat ruang angkasa NASA, Cassini, yang melihat lapisan oksigen sangat tipis, setara dengan dengan kondisi 300 mil atau 480 km di atas bumi.

Bedanya, pada Dione, hanya ada satu ion oksigen dalam setiap 0,67 kubik inchi atau satu ion untuk setiap 11 kubik sentimeter di ruang angkasa. Ada perbedaan pendapat, ilmuwan yang tergabung dalam misi Cassini ini mengatkan bahwa jumlah tersebut belum cukup sebagai sebuah atmosfer.

"Kami saat ini mengetahui bahwa Dione, bulan Rhea merupakan sebuah sumber molekul oksigen," kata Robert Tokar, anggota Tim Cassini Laboratorium Los Alamos yang juga pemimpin studi di New Mexico dalam sebuah pernyataan.

"Ini menunjukkan bahwa molekul oksigen pada dasarnya umum dalam sistem Saturnus. Memperkuat dugaan bahwa ini terjadi dari sebuah proses yang tidak melibatkan kehidupan," tambahnya.

Oksigen di Dione kemungkinan berpotensi dihasilkan oleh fotosintesis matahari atau partikel berenergi tinggi yang membombardir permukaaan yang melindungi lapisan es bulan Saturnus itu. Tokar menjelaskan bahwa serangan tersebut melepaskan ion oksigen ke atmosfer. Kemungkinan lain, oksigen adalah hasil dari proses geologi.

Dione bukan satu-satunya bongkahan batu yang mengandung atmosfer di tata surya. Lapisan tebal atmosfer diketahui menyelubungi Bumi, Venus, dan Mars. Juga bulan terbesar dari Planet Saturnus, Titan.

Atmosfer tipis pada bulan Saturnus yang lain, Rhea, Dione, yang mirip juga terdeteksi oleh NASA pada 2010.

Temuan oksigen pada Dione, tak lantas membuat pendapat pada ilmuwan berubah. Mereka tetap yakin Dione tak punya daya dukung kehidupan. "Namun riset terbaru menunjukkan, Dione jauh lebih menarik dari yang sebelumnya kami pikirkan," kata Amanda Hendrix, Deputi Proyek Sains Cassini pada Jet Propulsion Laboratory NASA, Kalifornia. Amanda tidak ikut dalam studi Tokar.

"Ilmuwan kini menggali Dione melalui data Cassini untuk melihat lebih detail bulan ini," katanya.

Pejabat NASA menjelaskan Dione ditemukan pada 1684 oleh astronom Giovanni Cassini. Bulan ini dinamai sesuai Dewa Yunani, Dione. Penyair kuno Yunani, Homer menggambarkan Dione sebagai ibu dari Dewi Aphrodite.

Dione merupakan salah satu bulan terkecil Saturnus dengan luas 698 mil atau 1123 km. Dione mengorbit Saturnus setiap 2,7 hari pada jarak 234 ribu mil atau 377,4 ribu km. ukuran ini sama dengan bulan bumi.

NASA meluncurkan misi Cassini pada 1997 yang mengorbit Saturnus sejak Cassini mendatangi cincin planet terbesar tersebut pada 2004. Misi tersebut merupakan upaya kerjasama NASA dan agen ruang angkasa Eropa dan Italia. Kerjasama tersebut telah diperluas beberapa kali, terkahir sampai 2017.

Studi detail terkait hal ini akan dijelaskan pada Jurnal Geophysical Research

• VIVAnews

Thursday, 17 November 2011

Astrophysicist Unfolds Mysteries of First Galaxies


This ScienceLives article was provided to LiveScience in partnership with the National Science Foundation.

Smadar Naoz is an IAU Gruber fellow postdoc at the Northwestern University, CIERA. This fall she is at Harvard University as an ITC fellow. Naoz is a theoretical astrophysicist, and her main research subject is the study of the formation and properties of the first generations of galaxies. Although much about the first and last chapters of the cosmic story have been uncovered, scientists' understanding of the middle part of the cosmic story remains incomplete. Basic questions regarding the transformation of the uniform early gas into the galaxies we see today, and what were the different properties of those objects, are still open. Naoz seeks to uncover the answers to those questions.

Naoz also studies the different dynamical processes that take place in extrasolar systems and in our solar system. The search for extrasolar planets has led to the surprising discovery of many Jupiter-like planets in very close proximity to their host star, the so-called "hot Jupiters". Even more surprisingly, some of the hot Jupiters have orbits that are elongated or highly inclined with respect to the equator of the star, and some are even orbiting counter to the star's spin direction. In our own solar system, all of the planets are roughly in the same plane and orbiting the sun in the same direction as the sun's spin. Consequently, observations of those retrograde hot Jupiters pose a unique challenge to all planet=formation models, and in particular, how the planets get so close to the star in such orbits. For more information about the research, view the National Science Foundation press release. To learn more about Naoz, read her responses to the 10 ScienceLives questions below.


live sciene

Wednesday, 16 November 2011

Buku Menjelajahi Tata Surya


Menjelajahi Tata Surya

Menjelajahi Tata Surya

Buku “Menjelajahi Tata Surya” ini bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 60.000 (belum termasuk ongkos kirim dari Yogyakarta).

Sinopsis

Membahas tentang tata surya dan benda-benda langit yang lain. Informasi-informasi yang tersedia didasarkan pada penemuan dan penelitian terbaru para ahli sehingga buku ini sangat layak menjadi panduan dalam usaha kita memahami tata surya kita dan alam semesta…. Ada hal-hal baru yang terungkap, tapi masih terdapat seribu satu rahasia yang belum terkuak. Buku ini mengajak kita untuk berpetualang. Jauh!

Judul: MENJELAJAHI TATA SURYA
Pengarang: A. Gunawan Admiranto
Penerbit: Kanisius
Tanggal Terbit: 13-03-2009
ISBN: 978-979-21-1924-4
Ukuran: 155×225
Halaman: 320

Buku ini akan dikirimkan langsung dari Penerbit Kanisius di Yogyakarta. Untuk memesan buku ini sekaligus mendapatkan informasi lengkap tentang pemesanan (cara pembayaran, pengiriman, ongkos kirim, dsb), silakan isi form komentar di bawah. Jangan khawatir, komentar yang masuk sudah diatur agar tidak muncul di halaman ini. Komunikasi selanjutnya akan dilakukan melalui email.

"Bangkai Alien" Disimpan dalam Kulkas








LONDON, KOMPAS.com — Seorang wanita di Rusia membuat geger para ilmuwan di negeri itu. Wanita itu mengaku menyimpan bangkai makhluk aneh mirip alien dalam lemari es.

Marta Yegorovnam mengklaim bahwa sosok aneh itu ia temukan dua tahun silam di sebuah tempat yang mengeluarkan bunyi ledakan keras di luar rumahnya di Petrozavodsk, Rusia barat. Begitu mendengar suara itu, ia langsung bergegas keluar dari rumah dan mendekati sumber suara.

Setibanya di lokasi, Marta mengaku menemukan puing-puing terbakar serta logam-logam yang sudah berantakan dan sangat panas. Ia juga melihat tubuh alien di rongsokan tadi.

Karena ingin menjaga keutuhan alien tadi, Marta kemudian mengawetkannya dengan cara membungkusnya dalam plastik dan memasukkannya ke dalam lemari beku di kulkas.

Temuan Marta itu tidak serta-merta membuat orang lain memercayainya. Ada pula yang menganggap bungkusan itu hanyalah sayuran busuk. Meski demikian, para ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Karelian di Petrozavodsk merasa penasaran dan ingin menyelidiki kebenaran cerita Marta.

Pengamat UFO, Michael Cohen, mengatakan bahwa Rusia merupakan sarang kegiatan obyek-obyek luar angkasa. Ia juga percaya bahwa pesawat alien mungkin pernah terpantau oleh lembaga militer atau pihak swasta setempat.

"Ini bisa jadi sebuah tipuan, tetapi kemungkinan bahwa sosok ini merupakan alien asli sebaiknya tidak diabaikan. Dalam setiap kemungkinan, makhluk asing akan terlihat aneh bagi kita, seperti spesimen ini," kata Cohen.

Friday, 28 October 2011

galaksi bimasakti

Galaksi Bimasakti

Terdapat banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang bisa diamati di langit setiap malamnya. Semua objek tersebut berada di dalam galaksi kita. Di beberapa bagian bintang nampak padat sehingga ketika langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagittarius (arah pusat Galaksi), Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah (bidang) galaksi yang kita tinggali. Bentuknya yang seperti itu kemudian menginspirasi orang untuk menamakannya dengan sebutan Milky Way. Kata galaksi dan milky way itu sendiri diadaptasi dari bahasa Yunani “galaxias” dan Latin “via lactea” dengan kata dasar lactea yang berarti susu. Sedangkan menurut orang Indonesia, galaksi kita diberi nama Bimasakti. Menurut salah satu sumber dari Observatorium Bosscha, sejarah penamaan ini berasal ketika Presiden RI pertama, Soekarno, ditunjukkan citra galaksi oleh salah seorang astronom Indonesia. Ternyata, Soekarno melihat salah satu bagian gelap di foto tersebut menyerupai tokoh Bima Sakti. Namun tidak diketahui bagian gelap mana yang dimaksud.

Galaksi Bimasakti dilihat dari Bumi (Sumber: eso.org)

Galaksi Bimasakti dilihat dari Bumi (Sumber: eso.org)

Galaksi adalah tempat berkumpulnya bintang-bintang di alam semesta. Hampir tidak ditemukan adanya bintang yang berkelana sendiri di ruang antar galaksi. Dan Matahari termasuk di antara 200 milyar bintang di Galaksi Bimasakti (disingkat dengan Galaksi). Dengan asumsi bahwa rata-rata massa bintang di Galaksi adalah sebesar massa Matahari, maka massa Galaksi dapat mencapai 2 x 10^11 massa Matahari (massa Matahari adalah 2 x 10^30 kg).

Bentuk galaksi Bimasakti seperti dua buah piring cekung yang ditangkupkan, bagian tengahnya tebal dan semakin pipih ke arah tepi, dan terdapat lengan-lengan spiral di dalamnya. Oleh karena itu Galaksi kita digolongkan ke dalam galaksi spiral. Berdasarkan klasifikasi galaksi Hubble, galaksi Bimasakti termasuk dalam kelas SBbc. Artinya, Galaksi kita adalah galaksi spiral yang memiliki “bar” atau palang di bagian pusatnya, dengan kecerlangan bagian pusat yang relatif sama dengan bagian piringan, dan memiliki struktur lengan spiral yang agak renggang di bagian piringannya.

Gambaran Galaksi Bimasakti Terbaru

Gambaran Galaksi Bimasakti terbaru (Sumber: NASA/JPL-Caltech)

Galaksi spiral tersusun atas 3 bagian utama, yaitu bagian bulge, halo, dan piringan. Ketiganya memiliki bentuk, ukuran, dan objek penyusun yang berbeda-beda. Bahkan, bagian bulge dan piringan menjadi penentu dalam klasifikasi galaksi yang dibuat oleh Hubble (diagram garpu tala).

Bagian bulge adalah daerah di galaksi yang kepadatan bintangnya paling tinggi. Bintang-bintang tua lebih banyak ditemukan daripada bintang muda, karena sangat sedikit materi pembentuk bintang yang terdapat di sini. Bulge ini berbentuk elipsoid seperti bola rugby. Bintang-bintang di dalamnya bergerak dengan kecepatan tinggi dan orbit yang acak, tidak sebidang dengan bidang galaksi. Dari perhitungan kecepatan orbit bintang-bintang di dalamnya, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat sebuah benda bermassa sangat besar yang berada di pusat Galaksi yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Benda tersebut diyakini adalah sebuah lubang hitam supermasif, yang diperkirakan terdapat di bagian pusat semua galaksi spiral. Termasuk juga di galaksi Andromeda, galaksi spiral terdekat dari Galaksi kita.

Komponen kedua adalah halo. Berbentuk bola, ukuran komponen ini sangat besar hingga jauh membentang melingkupi bulge dan piringan, bahkan mungkin lebih jauh daripada batas terluar piringan galaksi yang bisa kita amati. Objek yang menjadi penyusun halo dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stellar halo dan dark halo. Yang dimaksud dengan stellar halo adalah bintang-bintang yang berada di bagian halo. Namun hanya sedikit ditemukan bintang individu di bagian ini. Yang lebih dominan adalah kelompok bintang-bintang tua yang jumlah bintang anggotanya mencapai jutaan buah, yang disebut dengan gugus bola (globular cluster).

Di bagian piringan terdapat bintang-bintang muda serta gas dan debu antar bintang yang terletak di lengan spiral. Banyak ditemukannya bintang muda dan gas antar bintang sangat berkaitan erat, karena gas adalah materi utama pembentuk bintang. Di beberapa lokasi bahkan ditemukan bintang-bintang muda yang masih diselimuti gas, yang menandakan bahwa bintang-bintang tersebut baru terbentuk. Sedangkan banyaknya debu di piringan membuat pengamat di Bumi kesulitan untuk melakukan pengamatan visual di sekitar bidang Galaksi, terutama ke arah pusat Galaksi (lihat gambar di atas). Karenanya, pengamatan di sekitar bidang Galaksi akan memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan di daerah panjang gelombang radio dan infra merah yang tidak terpengaruh oleh debu antar bintang (lihat gambar di bawah).

Bimasakti dalam infra merah dekat

Galaksi Bimasakti dalam panjang gelombang infra merah dekat (Sumber: NASA-LAMBDA)

Seberapa besar Galaksi kita? Di bagian pusat Galaksi, bulge hanya memiliki diameter 6 kpc dan tebal 4 kpc (kpc = kiloparsek, 1 parsek = 3,26 tahun cahaya = 206265 SA = 3,086 x 10^13 km). Jarak dari pusat hingga ke bagian tepi Galaksi (jari-jari) adalah 15 kpc dengan ketebalan rata-rata sebesar 300 pc. Sedangkan Matahari berada pada jarak 8 kpc dari pusat. Di posisi itu, Matahari sedang bergerak mengelilingi pusat Galaksi dengan bentuk orbit yang hampir melingkar. Laju orbitnya adalah sekitar 250 km/detik sehingga matahari memerlukan waktu 220 juta tahun untuk berkeliling satu kali. Jika umur matahari adalah 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita sudah mengorbit pusat Galaksi sebanyak 20 kali.

Galaksi kita sebenarnya berada pada sebuah kelompok galaksi yang disebut dengan Grup Lokal, yang ukurannya mencapai 1 MPc dan beranggotakan lebih dari 30 galaksi. Galaksi spiral yang ada di kelompok ini hanya tiga, yaitu Bimasakti, Andromeda, dan Triangulum. Sisanya adalah galaksi yang lebih kecil dengan bentuk elips atau tak beraturan. Grup Lokal ini termasuk kelompok galaksi yang dinamis. Maksudnya adalah bahwa galaksi-galaksi di kelompok ini mengalami interaksi gravitasi, termasuk Galaksi kita dengan galaksi Andromeda. Interaksi tersebut diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya tabrakan antara Galaksi kita dengan Andromeda dan kemudian membentuk galaksi elips. Namun jangan terlalu khawatir karena peristiwa tersebut tidak akan terjadi hingga 2 milyar tahun lagi.

galaksi bimasakti

Galaksi Bimasakti

Terdapat banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang bisa diamati di langit setiap malamnya. Semua objek tersebut berada di dalam galaksi kita. Di beberapa bagian bintang nampak padat sehingga ketika langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagittarius (arah pusat Galaksi), Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah (bidang) galaksi yang kita tinggali. Bentuknya yang seperti itu kemudian menginspirasi orang untuk menamakannya dengan sebutan Milky Way. Kata galaksi dan milky way itu sendiri diadaptasi dari bahasa Yunani “galaxias” dan Latin “via lactea” dengan kata dasar lactea yang berarti susu. Sedangkan menurut orang Indonesia, galaksi kita diberi nama Bimasakti. Menurut salah satu sumber dari Observatorium Bosscha, sejarah penamaan ini berasal ketika Presiden RI pertama, Soekarno, ditunjukkan citra galaksi oleh salah seorang astronom Indonesia. Ternyata, Soekarno melihat salah satu bagian gelap di foto tersebut menyerupai tokoh Bima Sakti. Namun tidak diketahui bagian gelap mana yang dimaksud.

Galaksi Bimasakti dilihat dari Bumi (Sumber: eso.org)

Galaksi Bimasakti dilihat dari Bumi (Sumber: eso.org)

Galaksi adalah tempat berkumpulnya bintang-bintang di alam semesta. Hampir tidak ditemukan adanya bintang yang berkelana sendiri di ruang antar galaksi. Dan Matahari termasuk di antara 200 milyar bintang di Galaksi Bimasakti (disingkat dengan Galaksi). Dengan asumsi bahwa rata-rata massa bintang di Galaksi adalah sebesar massa Matahari, maka massa Galaksi dapat mencapai 2 x 10^11 massa Matahari (massa Matahari adalah 2 x 10^30 kg).

Bentuk galaksi Bimasakti seperti dua buah piring cekung yang ditangkupkan, bagian tengahnya tebal dan semakin pipih ke arah tepi, dan terdapat lengan-lengan spiral di dalamnya. Oleh karena itu Galaksi kita digolongkan ke dalam galaksi spiral. Berdasarkan klasifikasi galaksi Hubble, galaksi Bimasakti termasuk dalam kelas SBbc. Artinya, Galaksi kita adalah galaksi spiral yang memiliki “bar” atau palang di bagian pusatnya, dengan kecerlangan bagian pusat yang relatif sama dengan bagian piringan, dan memiliki struktur lengan spiral yang agak renggang di bagian piringannya.

Gambaran Galaksi Bimasakti Terbaru

Gambaran Galaksi Bimasakti terbaru (Sumber: NASA/JPL-Caltech)

Galaksi spiral tersusun atas 3 bagian utama, yaitu bagian bulge, halo, dan piringan. Ketiganya memiliki bentuk, ukuran, dan objek penyusun yang berbeda-beda. Bahkan, bagian bulge dan piringan menjadi penentu dalam klasifikasi galaksi yang dibuat oleh Hubble (diagram garpu tala).

Bagian bulge adalah daerah di galaksi yang kepadatan bintangnya paling tinggi. Bintang-bintang tua lebih banyak ditemukan daripada bintang muda, karena sangat sedikit materi pembentuk bintang yang terdapat di sini. Bulge ini berbentuk elipsoid seperti bola rugby. Bintang-bintang di dalamnya bergerak dengan kecepatan tinggi dan orbit yang acak, tidak sebidang dengan bidang galaksi. Dari perhitungan kecepatan orbit bintang-bintang di dalamnya, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat sebuah benda bermassa sangat besar yang berada di pusat Galaksi yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Benda tersebut diyakini adalah sebuah lubang hitam supermasif, yang diperkirakan terdapat di bagian pusat semua galaksi spiral. Termasuk juga di galaksi Andromeda, galaksi spiral terdekat dari Galaksi kita.

Komponen kedua adalah halo. Berbentuk bola, ukuran komponen ini sangat besar hingga jauh membentang melingkupi bulge dan piringan, bahkan mungkin lebih jauh daripada batas terluar piringan galaksi yang bisa kita amati. Objek yang menjadi penyusun halo dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stellar halo dan dark halo. Yang dimaksud dengan stellar halo adalah bintang-bintang yang berada di bagian halo. Namun hanya sedikit ditemukan bintang individu di bagian ini. Yang lebih dominan adalah kelompok bintang-bintang tua yang jumlah bintang anggotanya mencapai jutaan buah, yang disebut dengan gugus bola (globular cluster).

Di bagian piringan terdapat bintang-bintang muda serta gas dan debu antar bintang yang terletak di lengan spiral. Banyak ditemukannya bintang muda dan gas antar bintang sangat berkaitan erat, karena gas adalah materi utama pembentuk bintang. Di beberapa lokasi bahkan ditemukan bintang-bintang muda yang masih diselimuti gas, yang menandakan bahwa bintang-bintang tersebut baru terbentuk. Sedangkan banyaknya debu di piringan membuat pengamat di Bumi kesulitan untuk melakukan pengamatan visual di sekitar bidang Galaksi, terutama ke arah pusat Galaksi (lihat gambar di atas). Karenanya, pengamatan di sekitar bidang Galaksi akan memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan di daerah panjang gelombang radio dan infra merah yang tidak terpengaruh oleh debu antar bintang (lihat gambar di bawah).

Bimasakti dalam infra merah dekat

Galaksi Bimasakti dalam panjang gelombang infra merah dekat (Sumber: NASA-LAMBDA)

Seberapa besar Galaksi kita? Di bagian pusat Galaksi, bulge hanya memiliki diameter 6 kpc dan tebal 4 kpc (kpc = kiloparsek, 1 parsek = 3,26 tahun cahaya = 206265 SA = 3,086 x 10^13 km). Jarak dari pusat hingga ke bagian tepi Galaksi (jari-jari) adalah 15 kpc dengan ketebalan rata-rata sebesar 300 pc. Sedangkan Matahari berada pada jarak 8 kpc dari pusat. Di posisi itu, Matahari sedang bergerak mengelilingi pusat Galaksi dengan bentuk orbit yang hampir melingkar. Laju orbitnya adalah sekitar 250 km/detik sehingga matahari memerlukan waktu 220 juta tahun untuk berkeliling satu kali. Jika umur matahari adalah 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita sudah mengorbit pusat Galaksi sebanyak 20 kali.

Galaksi kita sebenarnya berada pada sebuah kelompok galaksi yang disebut dengan Grup Lokal, yang ukurannya mencapai 1 MPc dan beranggotakan lebih dari 30 galaksi. Galaksi spiral yang ada di kelompok ini hanya tiga, yaitu Bimasakti, Andromeda, dan Triangulum. Sisanya adalah galaksi yang lebih kecil dengan bentuk elips atau tak beraturan. Grup Lokal ini termasuk kelompok galaksi yang dinamis. Maksudnya adalah bahwa galaksi-galaksi di kelompok ini mengalami interaksi gravitasi, termasuk Galaksi kita dengan galaksi Andromeda. Interaksi tersebut diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya tabrakan antara Galaksi kita dengan Andromeda dan kemudian membentuk galaksi elips. Namun jangan terlalu khawatir karena peristiwa tersebut tidak akan terjadi hingga 2 milyar tahun lagi.

galaksi bimasakti

Galaksi Bimasakti

Terdapat banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang bisa diamati di langit setiap malamnya. Semua objek tersebut berada di dalam galaksi kita. Di beberapa bagian bintang nampak padat sehingga ketika langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagittarius (arah pusat Galaksi), Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah (bidang) galaksi yang kita tinggali. Bentuknya yang seperti itu kemudian menginspirasi orang untuk menamakannya dengan sebutan Milky Way. Kata galaksi dan milky way itu sendiri diadaptasi dari bahasa Yunani “galaxias” dan Latin “via lactea” dengan kata dasar lactea yang berarti susu. Sedangkan menurut orang Indonesia, galaksi kita diberi nama Bimasakti. Menurut salah satu sumber dari Observatorium Bosscha, sejarah penamaan ini berasal ketika Presiden RI pertama, Soekarno, ditunjukkan citra galaksi oleh salah seorang astronom Indonesia. Ternyata, Soekarno melihat salah satu bagian gelap di foto tersebut menyerupai tokoh Bima Sakti. Namun tidak diketahui bagian gelap mana yang dimaksud.

Galaksi Bimasakti dilihat dari Bumi (Sumber: eso.org)

Galaksi Bimasakti dilihat dari Bumi (Sumber: eso.org)

Galaksi adalah tempat berkumpulnya bintang-bintang di alam semesta. Hampir tidak ditemukan adanya bintang yang berkelana sendiri di ruang antar galaksi. Dan Matahari termasuk di antara 200 milyar bintang di Galaksi Bimasakti (disingkat dengan Galaksi). Dengan asumsi bahwa rata-rata massa bintang di Galaksi adalah sebesar massa Matahari, maka massa Galaksi dapat mencapai 2 x 10^11 massa Matahari (massa Matahari adalah 2 x 10^30 kg).

Bentuk galaksi Bimasakti seperti dua buah piring cekung yang ditangkupkan, bagian tengahnya tebal dan semakin pipih ke arah tepi, dan terdapat lengan-lengan spiral di dalamnya. Oleh karena itu Galaksi kita digolongkan ke dalam galaksi spiral. Berdasarkan klasifikasi galaksi Hubble, galaksi Bimasakti termasuk dalam kelas SBbc. Artinya, Galaksi kita adalah galaksi spiral yang memiliki “bar” atau palang di bagian pusatnya, dengan kecerlangan bagian pusat yang relatif sama dengan bagian piringan, dan memiliki struktur lengan spiral yang agak renggang di bagian piringannya.

Gambaran Galaksi Bimasakti Terbaru

Gambaran Galaksi Bimasakti terbaru (Sumber: NASA/JPL-Caltech)

Galaksi spiral tersusun atas 3 bagian utama, yaitu bagian bulge, halo, dan piringan. Ketiganya memiliki bentuk, ukuran, dan objek penyusun yang berbeda-beda. Bahkan, bagian bulge dan piringan menjadi penentu dalam klasifikasi galaksi yang dibuat oleh Hubble (diagram garpu tala).

Bagian bulge adalah daerah di galaksi yang kepadatan bintangnya paling tinggi. Bintang-bintang tua lebih banyak ditemukan daripada bintang muda, karena sangat sedikit materi pembentuk bintang yang terdapat di sini. Bulge ini berbentuk elipsoid seperti bola rugby. Bintang-bintang di dalamnya bergerak dengan kecepatan tinggi dan orbit yang acak, tidak sebidang dengan bidang galaksi. Dari perhitungan kecepatan orbit bintang-bintang di dalamnya, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat sebuah benda bermassa sangat besar yang berada di pusat Galaksi yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Benda tersebut diyakini adalah sebuah lubang hitam supermasif, yang diperkirakan terdapat di bagian pusat semua galaksi spiral. Termasuk juga di galaksi Andromeda, galaksi spiral terdekat dari Galaksi kita.

Komponen kedua adalah halo. Berbentuk bola, ukuran komponen ini sangat besar hingga jauh membentang melingkupi bulge dan piringan, bahkan mungkin lebih jauh daripada batas terluar piringan galaksi yang bisa kita amati. Objek yang menjadi penyusun halo dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stellar halo dan dark halo. Yang dimaksud dengan stellar halo adalah bintang-bintang yang berada di bagian halo. Namun hanya sedikit ditemukan bintang individu di bagian ini. Yang lebih dominan adalah kelompok bintang-bintang tua yang jumlah bintang anggotanya mencapai jutaan buah, yang disebut dengan gugus bola (globular cluster).

Di bagian piringan terdapat bintang-bintang muda serta gas dan debu antar bintang yang terletak di lengan spiral. Banyak ditemukannya bintang muda dan gas antar bintang sangat berkaitan erat, karena gas adalah materi utama pembentuk bintang. Di beberapa lokasi bahkan ditemukan bintang-bintang muda yang masih diselimuti gas, yang menandakan bahwa bintang-bintang tersebut baru terbentuk. Sedangkan banyaknya debu di piringan membuat pengamat di Bumi kesulitan untuk melakukan pengamatan visual di sekitar bidang Galaksi, terutama ke arah pusat Galaksi (lihat gambar di atas). Karenanya, pengamatan di sekitar bidang Galaksi akan memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan di daerah panjang gelombang radio dan infra merah yang tidak terpengaruh oleh debu antar bintang (lihat gambar di bawah).

Bimasakti dalam infra merah dekat

Galaksi Bimasakti dalam panjang gelombang infra merah dekat (Sumber: NASA-LAMBDA)

Seberapa besar Galaksi kita? Di bagian pusat Galaksi, bulge hanya memiliki diameter 6 kpc dan tebal 4 kpc (kpc = kiloparsek, 1 parsek = 3,26 tahun cahaya = 206265 SA = 3,086 x 10^13 km). Jarak dari pusat hingga ke bagian tepi Galaksi (jari-jari) adalah 15 kpc dengan ketebalan rata-rata sebesar 300 pc. Sedangkan Matahari berada pada jarak 8 kpc dari pusat. Di posisi itu, Matahari sedang bergerak mengelilingi pusat Galaksi dengan bentuk orbit yang hampir melingkar. Laju orbitnya adalah sekitar 250 km/detik sehingga matahari memerlukan waktu 220 juta tahun untuk berkeliling satu kali. Jika umur matahari adalah 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita sudah mengorbit pusat Galaksi sebanyak 20 kali.

Galaksi kita sebenarnya berada pada sebuah kelompok galaksi yang disebut dengan Grup Lokal, yang ukurannya mencapai 1 MPc dan beranggotakan lebih dari 30 galaksi. Galaksi spiral yang ada di kelompok ini hanya tiga, yaitu Bimasakti, Andromeda, dan Triangulum. Sisanya adalah galaksi yang lebih kecil dengan bentuk elips atau tak beraturan. Grup Lokal ini termasuk kelompok galaksi yang dinamis. Maksudnya adalah bahwa galaksi-galaksi di kelompok ini mengalami interaksi gravitasi, termasuk Galaksi kita dengan galaksi Andromeda. Interaksi tersebut diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya tabrakan antara Galaksi kita dengan Andromeda dan kemudian membentuk galaksi elips. Namun jangan terlalu khawatir karena peristiwa tersebut tidak akan terjadi hingga 2 milyar tahun lagi.

Astronomi

Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-benda langit (seperti halnya bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang, ataugalaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi (misalnya radiasi latar belakang kosmik (radiasi CMB)). Ilmu ini secara pokok mempelajari pelbagai sisi dari benda-benda langit — seperti asal-usul, sifat fisika/kimia, meteorologi, dan gerak — dan bagaimana pengetahuan akan benda-benda tersebut menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam semesta.

Astronomi sebagai ilmu adalah salah satu yang tertua, sebagaimana diketahui dari artifak-artifak astronomis yang berasal dari era prasejarah; misalnya monumen-monumen dari Mesir dan Nubia, atau Stonehenge yang berasal dari Britania. Orang-orang dari peradaban-peradaban awal semacamBabilonia, Yunani, Cina, India, dan Maya juga didapati telah melakukan pengamatan yang metodologis atas langit malam. Akan tetapi meskipun memiliki sejarah yang panjang, astronomi baru dapat berkembang menjadi cabang ilmu pengetahuan modern melalui penemuan teleskop.

Cukup banyak cabang-cabang ilmu yang pernah turut disertakan sebagai bagian dari astronomi, dan apabila diperhatikan, sifat cabang-cabang ini sangat beragam: dari astrometri, pelayaran berbasis angkasa, astronomi observasional, sampai dengan penyusunan kalender dan astrologi. Meski demikian, dewasa ini astronomi profesional dianggap identik dengan astrofisika.

Pada abad ke-20, astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang: astronomi observasional dan astronomi teoretis. Yang pertama melibatkan pengumpulan data dari pengamatan atas benda-benda langit, yang kemudian akan dianalisis menggunakan prinsip-prinsip dasar fisika. Yang kedua terpusat pada upaya pengembangan model-model komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-benda langit serta fenomena-fenomena alam lainnya. Adapun kedua cabang ini bersifat komplementer — astronomi teoretis berusaha untuk menerangkan hasil-hasil pengamatan astronomi observasional, dan astronomi observasional kemudian akan mencoba untuk membuktikan kesimpulan yang dibuat oleh astronomi teoretis.

Astronom-astronom amatir telah dan terus berperan penting dalam banyak penemuan-penemuan astronomis, menjadikan astronomi salah satu dari hanya sedikit ilmu pengetahuan di mana tenaga amatir masih memegang peran aktif, terutama pada penemuan dan pengamatan fenomena-fenomena sementara.

Astronomi harus dibedakan dari astrologi, yang merupakan kepercayaan bahwa nasib dan urusan manusia berhubungan dengan letak benda-benda langit seperti bintang atau rasinya. Memang betul bahwa dua bidang ini memiliki asal-usul yang sama, namun pada saat ini keduanya sangat berbeda.

wikipedia.org

Wednesday, 19 October 2011

Materi Antar Bintang

Ketika sedang mengamati indahnya langit malam, pernahkah Anda bertanya-tanya tentang kekosongan pada ruang antar bintang. Apakah sama sekali tidak ada apa-apa di sana? Benarkah di alam semesta seluas ini, dengan jarak antar bintang yang berkisar ribuan atau bahkan) jutaan tahun cahaya, hanya diisi ruang kosong? Kalau Anda pernah menanyakan hal tersebut, tahukah Anda apa jawabannya?Sebenarnya, ruang antar bintang itu tidak kosong. Materi antar bintang (interstellar matter) adalah sebutan untuk pengisi kekosongan itu. Lalu, seberapa penting keberadaan materi antar bintang (MAB)? Sebenarnya penting sekali, karena sifat materi penyusunnya mempengaruhi apa yang kita pelajari dalam astronomi. Dengan mempelajari MAB, kita jadi tahu bagaimana MAB meredupkan, memerahkan, atau bahkan menghalangi cahaya bintang. Selain itu juga MAB memberikan petunjuk mengenai komposisi materi pembentukan bintang, karena bintang lahir dari MAB ini. Artikel kali ini hanya akan membahas pengaruh MAB terhadap cahaya bintang.

Secara umum terdapat dua jenis penyusun materi antar bintang, yang pertama adalah debu antar bintang dan yang kedua adalah gas. Masing-masing jenis materi ini memberikan pengaruh yang berbeda ketika diamati. Berikut ini akan saya bahas masing-masing dalam dua poin besar.
A. Debu Antar Bintang

Materi ini jauh lebih kecil kelimpahannya dibandingkan dengan gas antar bintang, namun pengaruhnya terhadap berkas cahaya visual lebih besar. Hal ini disebabkan ukuran partikelnya yang besar (dalam orde 1/1000 mm), bandingkan dengan panjang gelombang cahaya tampak (1/20000 mm), sehingga materi ini cenderung untuk menyerap dan menghamburkan berkas cahaya. Debu antar bintang ini tersusun dari partikel-partikel es, karbon, atau silikat. Karakteristik debu ini menghasilkan bermacam efek terhadap cahaya bintang, yang akan dijelaskan sebagai berikut.

i. Nebula Gelap

Ada daerah tertentu di ruang antar bintang yang memiliki kepadatan debu yang sangat tinggi, sehingga cukup untuk menjadi awan (nebula) yang kedap cahaya. Walaupun kepadatan partikelnya masih jauh lebih rendah dari pada di Bumi, namun besarnya awan ini mengakibatkan terhalangnya cahaya bintang. Celah gelap memanjang di daerah Cygnus dan Horsehead Nebulae (Kepala Kuda) di Orion adalah contoh nebula gelap, yang menghalangi datangnya berkas cahaya bintang ke arah pengamat.

Horsehead Nebula

Horsehead Nebula (Sumber: APOD)

ii. Efek Redupan

Sekumpulan kecil debu selain di nebula gelap dapat juga memberikan efek meredupnya cahaya bintang sekitar 1 magnitudo setiap 1 kiloparsek yang ditempuh cahaya tersebut. Hal ini memunculkan permasalahan ketika akan ditentukan jarak sebuah bintang. Karena dalam menentukan jarak, diperlukan perbandingan antara magnitudo semu dan mutlak. Harga magnitudo semu yang didapat akan mengalami kesalahan akibat dari efek redupan tersebut, sehingga menyebabkan kesalahan pada nilai jarak bintang. Untuk mengatasinya, perlu diketahui terlebih dahulu seberapa besar efek redupan yang dialami cahaya bintang tersebut.

iii. Efek Pemerahan

Penghamburan berkas cahaya tidak sama di semua panjang gelombang. Karena ukuran partikel debu yang kecil, maka hanya gelombang elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang yang pendek yang lebih terkena efek penghamburan ini. Artinya, hanya cahaya ungu dan biru yang paling terkena efeknya. Sementara merah dan jingga tidak mengalami halangan yang berarti ketika melintasi debu antar bintang. Akibat dari kekurangan cahaya ungu dan biru ini, cahaya yang sampai di Bumi akan tampak merah. Hal inilah yang disebut sebagai efek pemerahan.

iv. Nebula Pantulan

Trifid Nebula

Trifid Nebula/M20 (Sumber: APOD)

Hamburan oleh debu antar bintang, terutama cahaya biru, terkadang menerangi daerah di sekitarnya. Akibatnya, awan debu antar bintang ini akan tampak biru karena cahaya bintang di belakangnya melintasi awan debu ini. Contoh dari nebula pantulan ini adalah gugus bintang Pleiades di Taurus serta Trifid Nebulae di Sagittarius.

B. Gas Antar Bintang

Materi utama penyusun gas antar bintang ini adalah Hidrogen dengan sedikit Helium. Kepadatan gas dalam suatu ruang antar bintang biasanya mencapai 1 atom/cm3 , sementara di beberapa tempat, kepadatan partikel gas antar bintang dapat mencapai 105 atom/cm3 . Namun kerapatan ini masih jauh lebih rendah daripada kepadatan gas di Bumi, 1019 atom/cm3. Nebula gas ini dibagi dua, daerah H I dan H II.

i. Daerah H II, Nebula Emisi

Jika bintang muda dan panas (golongan B dan O) terletak dekat dengan nebula gas, maka pancaran ultraviolet dari bintang tersebut akan mengionisasi gas hidrogen yang terkandung di dalam nebula itu. Ketika inti atom hidrogen menangkap elektron yang lain, pada saat yang bersamaan dipancarkan pula radiasi elektromagnetik, dalam panjang gelombang cahaya tampak. Akibatnya, cahaya uv dari bintang diubah menjadi cahaya tampak oleh nebula gas ini. Jika dilihat spektrumnya, nebula ini memberikan garis emisi. Contoh nebula jenis ini adalah Nebula Orion di daerah pedang Orion, Nebula Lagoon dan Nebula Trifid di Sagittarius.

Great Orion Nebula

Great Orion Nebula (Sumber: APOD)

Ada dua macam lagi nebula emisi yang berbeda dengan yang disebut di atas. Kedua macam nebula ini dibentuk dalam evolusi bintang. Yang pertama adalah planetary nebula, yaitu ketika sebuah bintang berada dalam evolusi tahap akhirnya, melontarkan selubung gas yang didorong dari bintang akibat tekanan dalamnya. Selama proses ini, gelombang uv dari bintang meradiasi selubung tersebut, sehingga terjadi peristiwa yang sama seperti penjelasan sebelumnya. Akibatnya terlihat sebuah bintang di tengah-tengah awan gas. Contoh planetary nebula jenis ini adalah Nebula Cincin di Lyra.

Planetary Nebula

Planetary Nebula (Sumber: APOD)

Yang kedua adalah sisa ledakan supernova. Gas yang tersisa setelah ledakan bintang (supernova) menerima pancaran energi dari pusat nebula. Contohnya, Cygnus Loop.

Lagoon Nebula (Sumber: APOD)

Cygnus Loop (Sumber: APOD)

ii. Daerah H I, Awan Hidrogen Netral

Di daerah awan gas ini, tidak ada sumber gelombang uv yang dapat mengionisasi hidrogennya. Awan ini gelap, dingin dan transparan. Pengamatan objek ini bergantung pada sifat yang dimiliki oleh inti atom hidrogennya.

Diketahui bahwa pada elektron dan inti pada sebuah atom memiliki momentum spin. Keduanya dapat memiliki spin yang searah atau berlawanan. Dalam keadaan spin searah, atom memiliki tingkat energi yang lebih tinggi daripada spin berlawanan. Jika sebuah atom berada dalam keadaan spin searah, maka setelah 106 tahun atom tersebut akan berubah ke tingkat energi yang lebih rendah ( spin berlawanan ). Proses ini, disebut ’’electron spin flop’’, akan menghasilkan pancaran energi kuantum dengan panjang gelombang setara dengan gelombang radio, 21 cm. Maka, pengamatan yang telah dilakukan pun lebih banyak dilakukan oleh astronom radio.

iii. Molekul antar bintang

Pengamatan radio telah menghasilkan penemuan sejumlah senyawa dalam sebuah awan gas. Hal ini dapat diketahui dari sifat energi elektromagnetik yang dipancarkan maupun diserap oleh awan gas tersebut. Diantara yang diketahui adalah molekul-molekul organik, molekul yang menjadi dasar kehidupan.. Beberapa diantarnya adalah hidroksil radikal, amonia, air, metil alkohol, metil sianida, formaldehid, hidrogen sianida, dan karbon monoksida. Kelimpahan molekul-molekul ini jauh lebih kecil dari hidrogen.

http://duniaastronomi.com/

Saturday, 3 September 2011

NASA: Nenek Moyang Manusia adalah Alien
waawww...
klik disini